SEKOLAH DASAR NEGERI LEUWIGAJAH 3

Jln Kerkof No 30 A Kel. Leuwigajah Kota Cimahi Tlp 022 667 7460

Translate

Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts

Friday, July 27, 2012

Ayah ku Si Buruk Rupa


Selama ini aku selalu berhasil melarang Ayah datang ke sekolah: mengantar, menjemput, atau untuk keperluan lain. Tentu saja aku tidak terang-terangan melarang. Aku punya cara supaya Ayah tidak merasa aku larang ke sekolah. Seperti musim pengambilan rapor kemarin dulu, misalnya.
“Ibu saja yang mengambil rapor, Yah. Ayah ‘kan capek,” kataku ketika itu.
“Tapi besok ‘kan Sabtu. Ayah libur, tidak ke mana-mana.” “Setiap hari Ayah ‘kan kerja, cuma libur hari Sabtu dan Minggu. Jadi, Sabtu dan Minggu jatah Ayah duduk manis di rumah, baca-baca, nonton tivi, atau siram-siram bunga. Tenang saja, Yah. Dijamin, pokoknya raporku keren,” kataku mencoba ‘melarang’ Ayah ke sekolah.
“Oke, deh,” jawab Ayah dengan gayanya yang khas.
“Yes!” aku berteriak –dalam hati, tapi-- sambil mengepalkan tangan.
Kadang-kadang aku suka merasa berdosa karena sering menghalang-halangi Ayah ke sekolah. Habis, aku harus bagaimana. Kalau Ayah ke sekolah, semua temanku akan tahu penampilan ayahku tidak cool seperti ayah mereka. Bukan karena tidak bisa berdandan, tapi karena Ayah memang tidak menarik, baik wajah maupun postur tubuhnya. Sudah tidak tampan, kurus pula.
Aku tak habis pikir, bagaimana Ibu yang begitu cantik mau menikah dengan Ayah yang … ah, tidak tega aku menyebutnya. Ayah dan Ibu memang sungguh berbeda. Seperti langit dan comberan, begitu istilah Ayah setiap mengatakan perbedaan dirinya dan Ibu –tentu saja dengan nada bercanda. Langit dan bumi saja sudah jauh, apalagi dibandingkan dengan comberan –yang letaknya tentu lebih rendah dari permukaan bumi.
Kulit Ibu putih, bersih, tidak ada noda sedikit pun. Ibaratnya, kalau Ibu minum kopi, kopinya akan kelihatan meluncur dari mulut ke perut lewat lehernya yang indah itu. Sebaliknya, kulit Ayah hitam. Sudah hitam, banyak pulaunya.
“Yang ini bekas jatuh waktu mengejar layangan, yang ini diseruduk sepeda, yang ini kena petasan, yang ini disosor bebek, yang ini…” kata Ayah menunjuk peta pulau di kakinya dan menjelaskan bagaimana pulau-pulau itu didapat.
Ayah menjelaskan itu dengan riang gembira. Seolah-olah pulau-pulau di kakinya adalah sesuatu yang indah dan harus dibanggakan.
“Ayah norak, ih!” Ayah malah tertawa. Sebelnya, Ibu juga ikut tertawa. “Tahu tidak, selain kaki dengan pulau seribu ini, Ayah juga punya karunia lain yang sangat besar dari Tuhan. Karunia itu adalah wajah dan kulit Ayah.” Mulutku menganga, mataku melotot. Tapi Ayah malah tertawa berderai.
“Kamu tahu apa maksud Ayah?” tanya Ibu ikut campur.
Aku menggeleng. Dengan gaya dibuat-buat, Ayah menjelaskan.  “Wajah Ayah adalah pemberian Tuhan. Ayah sudah seperti ini sejak bayi. Memang, Ayah bisa operasi plastik supaya wajah ini kelihatan tampan. Sayangnya Ayah tidak kaya. Seandainya kaya pun, Ayah tak mau operasi plastik. Lebih baik wajah Ayah tetap seperti ini daripada Ayah harus mengumpulkan ember dan tas kresek bekas dan membawanya ke dokter untuk modal operasi wajah Ayah. Jangan-jangan plastik-plastik bekas tadi akan meleleh kalau kena matahari. Hiii, seraam…”
Ayah dan Ibu tertawa. Menyebalkan. Huh!
“Kalau Ayah tidak boleh kena matahari, bagaimana kita bisa hidup. Ayah ‘kan tukang pos. Setiap hari harus berpanas-panas ke sana-kemari mengantar surat. Dari kerja itulah Ayah mendapat uang yang kita pakai untuk macam-macam: mulai dari makan sehari-hari, beli pakaian, bayar listrik, bayar sekolah, dan masih banyak lagi…” ujar Ibu melanjutkan.
Deg! Aku merasa nafasku sesak. Dan mataku terasa panas.Tiba-tiba begitu saja aku menubruk Ayah, memeluk, dan menciuminya.Di sela-sela tangis, aku cuma bisa berkata:
“Maafkan Cantika, Ayah…”
Ya, Ibu benar. Setiap hari Ayah berpanas-panas mengantar surat. Meskipun sudah ditutupi jaket, tetap saja kulit Ayah hitam. Dari kulit yang hitam terbakar matahari itu entah berapa liter keringat yang mengucur. Keringat itulah yang membuat aku bisa terus sekolah. Lalu, apa alasanku untuk tidak membanggakan orang itu, ayahku sendiri, yang telah bekerja keras demi aku, anaknya.
“Lho, lho, lho, ada apa ini?” kata Ayah sambil menerima pelukanku.
“Cantika, Cantika… Ayah bangga bisa berkumpul dengan kalian, bidadari-bidadari yang cantik. Ini anugerah Tuhan yang sangat besar. Tuhan sudah mengatur semuanya. Ayah yang buruk rupa ini bersanding dengan ibumu yang manis-ayu-cantik jelita. Kalau dua-duanya buruk rupa, ho ho ho, bagaimana Ayah bisa memperbaiki keturunan. Salah-salah wajah kamu bisa kotak-kotak…”
***
(Prih Suharto)
prih_suharto @yahoo .com

http://sdn-leuwigajah3.blogspot.com/

Thursday, July 19, 2012

Kedamaian Hati Adalah Kedamaian Sejati

Seorang Raja mengadakan sayembara dan akan memberi hadiah berlimpah kepada siapa saja yang bisa melukis tentang kedamaian. Ada banyak seniman dan pelukis yang berusaha keras untuk memenangkan lomba tersebut.

Ketika sayembara telah usai, sang Raja berkeliling melihat-lihat hasil karya mereka. Hanya ada dua buah lukisan yang paling disukainya. Tapi, sang Raja harus memilih satu diantara keduanya.

Lukisan pertama menggambarkan sebuah telaga yang tenang. Permukaan telaganya bagaikan cermin sempurna yang mematulkan kedamaian gunung- gunung yang menjulang tenang disekitarnya. Di atasnya terpampang langit biru dengan awan putih berarak-arak. Semua yang memandang lukisan ini akan berpendapat, inilah lukisan terbaik mengenai kedamaian.

Lukisan kedua menggambarkan pegunungan juga. Namun tampak kasar dan gundul. Di atasnya terlukis langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan badai, sedangkan tampak kilat menyambar-nyambar liar. Di sisi gunung ada air terjun deras yang berbuih-buih, sama sekali tidak menampakkan ketenangan dan kedamaian.

Tapi, sang Raja melihat sesuatu yang menarik, di balik air terjun itu tumbuh semak-semak kecil diatas sela-sela batu. Di dalam semak-semak itu seekor induk burung pipit meletakkan sarangnya. Jadi, ditengah-tengah riuh rendahnya air terjun, seekor induk pipit sedang mengerami telurnya dengan damai. Benar-benar damai.

Lukisan manakah yang memenangkan lomba?

Sang Raja memilih lukisan nomor dua.

“Wahai Raja, kenapa Raja memilih lukisan nomor dua?”

Sang Raja menjawab, “Kedamaian bukan berarti kau harus berada di tempat yang tanpa keributan, kesulitan atau pun pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian adalah hati yang tenang dan damai, meskipun kau berada di tengah-tengah keributan luar biasa.”

Puisi Chairil Anwar

A K U
                                                             Karya : Chairil Anwar


Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Contoh Puisi

Masih kah yang seperti ini di ajarkan di sekolah...? 
Saat ini puisi dan pantun menjadi barang langka, mari kita simak !! Apakah yang dimaksud dengan puisi anak-anak? Puisi anak-anak adalah jenis karya sastra yang terkait oleh aturan tertentu yang isinya sesuai dengan perkembangan jiwa anak-anak. Oleh sebab itu, puisi tersebut ditujukan bagi anak-anak. Isi, sifat, dan gaya pengungkapannya pun harus disesuaikan dengan pola kehidupan dan kemampuan anak-anak. Tidaklah mungkin kalau gaya pengungkapannnya dengan menggunakan bahasa yang terlalu tinggi, sebab tidak akan dapat dipahami anak-anak.
Puisi anak-anak biasanya yang paling populer berbentuk pantun. Adapun jenis pantun yang termasuk pantun anak-anak adalah pantun bersuka cita, pantun jenaka, pantun teka-teki, pantun nasihat, dan pantun agama.
Berikut contoh pantunnya.

1. Pantun bersuka cita
    Dibawah itik pulang petang
    Dapat di rumput bilang-bilang
    Melihat ibu sudah datang
    Hati cemas jadi hilang

2. Pantun jenaka
    Elok rupanya pohon belimbing
    Tumpuh dekat pohon mangga
    Elok rupanya berbini sumbing
    Biar marah tertawa juga

3. Pantun teka-teki
    Kalau puan, puan cerana
    Ambil gelas di dalam peti
    Kalau tuan bijak laksana
    Binatang apa tanduk di kaki

4. Pantun nasihat
    Berburu kepadang datar 
    Mendapat rusa belang di kaki
    Berburu kepalang ajar
    Bagai bunga kembang tak jadi

5. Pantun agama
    Asam kadis asam gelugur
    Kedua asam siang riang
    Menangis mayat di dalam kubur
    Teringat badan tidak sembahyang

Wednesday, July 18, 2012

Legenda Sangkuriang


Alkisah pada jaman dahulu kala ada sebuah kerajaan di jawa barat yang dipimpin oleh seorang raja. Raja memiliki seorang putri yang sangat cantik yang bernama Dayang Sumbi. Dayang Sumbi sangat pandai menenun, setiap hari dia akan menghabiskan waktu dengan menenun kain di sebuah pondok di pinggir hutan. Suatu hari, seperti biasa ketika Dayang sumbi sedang menenun kain, tiba-tiba segulung benang terjatuh dan berguling ke luar pondok. Tanpa sadar Dayang Sumbi berkata:

"Siapa pun yang mau mengambilkan benangku yang terjatuh, jika dia wanita akan kujadikan saudara, jika dia pria akan kujadikan dia suamiku."
Seekor anjing hitam tiba-tiba muncul di hadapannya dengan membawa gulungan benang miliknya. Dayang sumbi terkejut, namun apa mau dikata, Dayang sumbi telah terlanjur berucap. Maka Dayang sumbi pun bersedia menikahi anjing tersebut. Ternyata anjing tersebut adalah titisan dewa. Begitu Dayang sumbi bersedia menikahinya, dia pun berubah wujud menjadi seorang pria yang sangat tampan. Mereka berdua merahasiakan kejadian ini pada baginda raja. Raja hanya tahu bahwa kemana pun Dayang sumbi pergi akan ditemani oleh seekor anjing hitam yang dipanggil Tumang.

Hingga suatu hari Dayang sumbi mengandung. Hal ini membuat istana geger dan membuat raja murka. Beliau murka karena Dayang sumbi hamil tanpa menikah. Karena sangat marah, raja lalu mengusir Dayang sumbi keluar dari istana. Maka Dayang sumbi dan si Tumang pun pergi dari istana dan tinggal di sebuah pondok di tepi hutan. Beberapa bulan kemudian Dayang Sumbi melahirkan seorang putra yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang pandai. Setiap hari Sangkuriang pergi berburu Rusa atau burung dan menangkap ikan di sungai bersama Tumang.

Suatu ketika saat berburu, Sangkuriang melihat seekor kijang emas. Dia menyuruh Tumang mengejarnya. Anehnya Tumang yang biasanya menurut, kali ini tidak mau bergerak dari tempatnya meski Sangkuriang mengancamnya. Tak sengaja anak panah yang dipakai untuk mengancam Tumang terlepas dari busurnya dan mengenai Tumang hingga anjing itu tewas. Ketika sampai di pondok, Dayang sumbi yang sedang menanak nasi menanyakan keberadaan Tumang.
"Saya membunuhnya bu," kata Sangkuriang.
Dayang sumbi sangat terkejut dan marah sehingga memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi yang sedang dipegangnya hingga berdarah. Sangkuriang berulang kali memohon ampun, namun Dayang sumbi malah mengusirnya. Sangkuriang pun pergi meninggalkan Dayang sumbi. Setelah sekian lama berjalan, Sangkuriang tak bisa lagi menahan rasa sakit di kepalanya, maka ia pun jatuh pingsan. Seorang pertapa menemukan Sangkuriang dan membawanya ke pertapaan. Dia merawat Sangkuriang sampai lukanya sembuh dan megajarinya ilmu bela diri dan kesaktian. Karena ketekunannya Sangkuriang berhasil menjadi seorang yang sakti dan bisa memanggil serta memerintah jin dan dedemit. Sayang, sangkuriang tidak bisa mengingat masa lalunya. Maka pertapa memanggilnya Jaka.

Sementara itu Dayang Sumbi menyesal telah mengusir Sangkuriang. Maka dia memohon kepada Dewa untuk mempertemukan mereka kembali. Dayang sumbi berdoa siang dan malam, hingga suatu hari Dewa berkenan mengabulkan permintaannya.
"Aku akan memberimu kecantikan abadi," kata Dewa, "supaya wajahmu tidak berubah sampai kapanpun, dan anakmu akan mengenalimu saat kalian berjumpa."

Setelah bertahun-tahun lamanya, Jaka berniat untuk mengembara dan mencari tahu masa lalunya. Maka pergilah ia kemana kakinya melangkah. Hingga akhirnya tibalah ia di sebuah pondok di tepi hutan. Di sana dia bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik dan Jaka terpesona. Ternyata wanita itu adalah Dayang Sumbi. Mereka pun berkenalan dan saling jatuh cinta.

Suatu hari Jaka hendak pergi berburu.
"Nyai, hari ini akang akan pergi berburu," kata Jaka. "Maukah kau mengikatkan ikat kepalaku?"
"Baiklah kang," kata Dayang Sumbi.
Maka jaka merendahkan tubuhnya supaya Dayang sumbi bisa mengikatkan ikat kepalanya. Tiba-tiba Dayang sumbi melihat bekas luka di kepala Jaka. Dia sangat kaget karena luka itu persis berada di tempat dia pernah memukul anaknya. Dayang sumbi mulai curiga bahwa Jaka tidak lain adalah Sangkuriang anaknya sendiri. Apalagi setelah diperhatikan Jaka sangat mirip dengan wajahnya sendiri. Maka Dayang Sumbi pun bertanya:
"Kenapa ada bekas luka di kepalamu, kang?"
"Akang juga tidak tahu," kata Jaka. "Seingatku luka itu sudah ada sejak akang masih kecil. Akang memang tidak ingat masa lalu akang. Guruku berkata bahwa dia menemukanku sedang pingsan dan terluka parah."

Mendengar hal itu Dayang sumbi semakin yakin bahwa Jaka adalah Sangkuriang. Maka ia pun berusaha meyakinkan Sangkuriang. Namun Sangkuriang tidak percaya. Menurutnya tidak mungkin wanita muda di hadapannya adalah ibunya yang sudah berpisah sekian lama. Karena Sangkuriang tetap tidak percaya dan dia tetap ingin menikahi Dayang Sumbi, maka Dayang Sumbi mengajukan persyaratan.
"Apapun persyaratannya aku pasti akan sanggup memenuhinya," kata Sangkuriang.
"Kau harus bisa membuatkanku sebuah danau dan sebuah perahu tempat kita berbulan madu nanti," kata Dayang Sumbi.
"Hanya itu?" tanya Sangkuriang. "Gampang sekali."
"Ya, tapi sebelum fajar menyingsing kau harus sudah menyelesaikannya," jelas Dayang Sumbi. "Baiklah!" kata Sangkuriang. "Kau akan melihatnya besok pagi."

Malam harinya Sangkuriang memanggil Jin dan dedemit untuk membantunya. Tidak sulit bagi para makhluk gaib itu untuk melaksanakannya. Mereka dengan mudah menggali tanah dan menyusun batu-batu besar untuk membendung aliran air sehingga terbentuk sebuah danau. Lalu mereka mulai menebang hutan dan membuat perahu. Dayang Sumbi yang diam-diam mengintip pekerjaan Sangkuriang merasa was-was melihat sebentar lagi danau dan perahu tersebut akan selesai. Maka dia berlari ke desa terdekat untuk meminta pertolongan. Kemudian Dayang sumbi dan masyarakat di desa tersebut menggelar kain sutera merah di sebelah timur dan ramai bercengkrama sehingga membangunkan ayam-ayam yang lalu mulai berkokok seolah-olah hari telah pagi. Para Jin dan Dedemit yang melihat warna merah dan suara ayam berkokok mengira bahwa fajar akan segera terbit. Mereka ketakutan sehingga cepat-cepat melarikan diri meninggalkan perahu yang hampir jadi.

Sangkuriang sangat marah mengetahui dirinya telah tertipu. Maka dengan kekuatannya dia menendang perahu yang dibuatnya hingga perahu itu terbang dan jatuh terbalik. Sejak itu perahu itu berubah menjadi gunung yang sampai sekarang dikenal dengan Gunung Tangkuban Perahu. (Dalam bahasa Sunda Tangkuban Perahu artinya Perahu yang terbalik.

Thursday, July 5, 2012

NKRI


NKRI adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia, wilayahnya yang begitu luas terbentang dari Sabang disebelah barat sampai Merauke di sebelah timur. Perbandingan antara luas daratan dan luas lautan menjadikan Indonesia juga diebut juga sebagai Negara Maritim atau Negara Kepulauan.

A.         Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, keutuhan berasal dari kata dasar utuh yang berarti keadaan yang sempurna atau tidak terpecah belah. Jadi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia artinya adalah bahwa Indonesia merupakan Negara kesatuan yang memiliki kedaulatan, mempunyai tujuan nasional dan berdiri secara utuh baik wilayahnya, rakyatnya maupun pemerintahannya.
Untuk menjaga NKRI tetap utuh maka diperlukan sikap yang harus di junjung tinggi oleh seluruh rakyat Indonesia, yaitu :
a.        Cinta tanah air
b.        Membina persatuan dan kesatuan
c.        Rela menolong
d.        Tenggang rasa
e.        Kasih saying, dll
B.         Letak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
I.         Letak Astronomis

peta-indonesia.jpgLetak Astronomis adalah posisi/letak yang berdasarkan garis lintang dan garis bujur. Garis Lintang adalah garis khyal yang melingkari bumi secara horizontal membentang dari barat ke timur, sedangkan garis bujur adalah garis khayal yang menghubungkan kutub utara dan kutub selatan
Indonesia juga dilintasi oleh garis khayal yang membelah bumi menjadi 2 yang sama besar, garis ini dinamakan dengan garis equator  atau yang sering  kita dengar yaitu garis katulistiwa.  Garis ini menimbulkan 2 musim di Indonesia yaitu musim hujan dan musim kemarau. Berdasarkan gambar diatas maka Indonesia terletak pada garis lintang 60 Lintang Utara – 110 Lintang Selatan, serta berada pada garis bujur 950 Bujur Timur -  1410 Bujur Timur.

II.    Letak Geografis
       Indonesia merupakan Negara kepulauan yang berbentuk republik yang terletak di kawasan Asia Tenggara  yang memiliki ± 17.000 buah pulau daratan sekitar 1.922.570 Km2  dan luas perairan ± 3.257.483 Km2 . Pada gambar diatas dapat dilhat batasan wilayah Indonesia, yaitu :
-          Utara berbatasan dengan Malasya, Singapura, Philiphina, Brunai Darusallam
-          Selatan berbatasan dengan Australia, Timor Leste
-          Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia,
-          Timur berbatasan dengan Samudra Pasifik

Selain dari itu, Indonesia juga diapit oleh 2 benua yaitu Benua Asia dan Benua Australia, juga di diapit oleh 2 samudra yaitu, Samudera Indonesia dan Samudera Pasifik. Oleh Sebab itu maka letak geografis dapat diartikan sebagai letak wilayah menurut kondisi bentang alam.

Macam Macam Puisi


Sebuah puisi merupakan ungkapan perasaan atau pikiran penyairnya dalam satu bentuk ciptaan yang utuh dan menyatu. Secara garis besar, sebuah puisi terdiri atas 7 unsur, yaitu: tema, suasana, imajinasi, amanat, nada, suasana, dan perasaan. Sedangkan prinsip dasar sebuah puisi adalah berkata sedikit mungkin, tetapi mempunyai arti sebanyak mungkin.
Macam – macam puisi di Indonesia :
A.       Puisi Lama
B.       Puisi Baru

A.         Puisi lama adalah :
Puisi Lama merupakan puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain : Jumlah kata dalam 1 baris, Jumlah baris dalam 1 bait, Persajakan (rima), Banyak suku kata tiap baris dan Irama.
Ciri-ciri puisi lama
1.         Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
2.       Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
3.       Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.

Ragam Puisi Lama
F Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
F Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
F Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
F Seloka adalah pantun berkait.
F Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
F Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
F Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.

B.              Puisi Baru

Puisi baru disebut puisi modern. Bentuk puisi baru lebih bebas daripada puisi lama. Kalau puisi lama sangat terikat pada aturan-aturan yang ketat, puisi baru lebih bebas. Hakikat puisi tetap dipertahankan seperti rima, irama, pilihan kata, dll. Namun, demikian puisi-puisi baru tidak sepenuhnya lepas dari tradisi lama. Hanya ikatan itu lebih longgar.

Ragam Puisi Baru adalah sebagai berikut :
  • Balada adalah puisi berisi kisah/cerita.
  • Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
  • Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
  • Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup.
  • Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.
  • Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan.
  • Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik.
Namun, ada juga yang mengklasifikasikan Puisi Baru sebagai berikut  :
  • Distikton (sajak dua seuntai)
  • Tersina (sajak tiga seuntai)
  • Kuartin (sajak empat seuntai)
  • Kuin (sajak lima seuntai)
  • Sektet (sajak enam seuntai)
  • Sanza atau Septina (sajak tujuh seuntai)
  • Oktava (sajak delapan seuntai)
  • Soneta (sajak empat belas baris)
CONTOH PUISI
Menyesal
Karya Ali Hasjmi.
 

Pagiku hilang sudah melayang
Hari mudaku sudah pergi
Kini petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi

Aku lalai di hari pagi
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta

Ah, apa guna kuselalkan
Menyesal tua tia berguna
Hanya menambah luka sukma

Kepada yang muda kuharapkan
Atur barisan di pagi hari
Menuju arah padang bakti


Friday, October 21, 2011

DRAMA

 Unsur Dalam Drama 


a. Tema
Tema cerita adalah pokok pikiran dalam sebuah karangan. Atau, dapat diartikan pula sebagai dasar cerita yang ingin disampaikan oleh penulisnya (Lutters, 2006:41).
Tema drama harus disesuaikan dengan penonton. Jika drama ditujukan kepada pelajar, maka tema ceritanya juga harus sarat dengan pendidikan. Jangan sampai tema yang disajikan justru menjerumuskan pelajar sebagai penonton pada hal-hal yang tidak edukatif.

b. Alur Cerita (Plot)
Plot atau alur adalah pola dasar dari kejadian-kejadian yang membangun aksi yang penting dalam sebuah drama. Plot drama harus dibangun mulai dari awal, lalu terdapat kemajuan-kemajuan, dan penyelesaian masalah yang diberikan kepada penonton. Plot menjelaskan bagaimana sebuah kejadian memengaruhi kejadian yang lain dan mengapa orang-orang yang ada di dalamnya berlaku seperti itu (Suban, 2009: 79).
Somad dkk. ( 2008:149) menjabarkan alur menjadi beberapa bagian berikut.

  • Eksposisi/ introduksi merupakan pergerakan terhadap konflik melalui dialog-dialog pelaku.
  • Intrik merupakan persentuhan konflik atau keadaan mulai tegang.
  • Klimaks merupakan pergumulan konflik atau ketegangan yang telah mencapai puncaknya dalam cerita.
  • Antiklimaks merupakan konflik mulai menurun atau masalah dapat diselesaikan.
  • Konklusi merupakan akhir peristiwa atau penentuan terhadap nasib pelaku utama.
  •  
c. Latar Cerita (Setting)
Lutters (2006: 56) menjelaskan bahwa setting cerita adalah lokasi tempat cerita ini ingin ditempatkan atau diwadahi. Setting dibagi menjadi dua, yaitu media/ tempat dan budaya.

d. Penokohan
Penokohan/ karakter pelaku utama adalah pelukisan karakter/ kepribadian pelaku utama. Lutters ( 2006: 81) membagi tokoh/ peran menurut sifatnya dalam tiga hal berikut.
1. Peran Protagonis
Peran protagonis adalah peran yang harus mewakili hal-hal positif dalam kebutuhan cerita. Peran ini biasanya cenderung menjadi tokoh yang disakiti, baik, dan menderita sehingga akan menimbulkan simpati bagi penontonnya. Peran protagonis ini biasanya menjadi tokoh sentral, yaitu tokoh yang menentukan gerak adegan.
2. Peran Antagonis
Peran antagonis adalah kebalikan dari peran protagonis. Peran ini adalah peran yang harus mewakili hal-hal negatif dalam kebutuhan cerita. Peran ini biasanya cenderung menjadi tokoh yang menyakiti tokoh protagonis. Dia adalah tokoh yang jahat sehingga akan menimbulkan rasa benci atau antipasti penonton.
3. Peran Tritagonis
Peran tritagonis adalah peran pendamping, baik untuk peran protagonis maupun antagonis. Peran ini bisa menjadi pendukung atau penentang tokoh sentral, tetapi juga bisa menjadi penengah atau perantara tokoh sentral. Posisinya menjadi pembela tokoh yang didampinginya. Peran ini termasuk peran pembantu utama.
Suban (2009:68) membagi karakter menjadi tiga bagian menurut kedudukannya dalam cerita.
1. Karakter Utama (Main Character)
Karakter utama adalah karakter yang mengambil perhatian terbanyak dari pemirsa dan menjadi pusat perhatian pemirsa.. Karakter ini juga paling banyak aksinya dalam cerita.
2. Karakter Pendukung (Secondary Character)
Karakter pendukung adalah orang-orang yang menciptakan situasi dan yang memancing konflik untuk karakter utama. Kadang-kangan karakter pendukung bisa memainkan peranan yang membantu karakter utama. Misalnya sebagai orang keparcayaan karakter utama. Contohnya, sebagai sopir atau bodyguard.
3. Karakter Figuran (Incedental Character)
Karakter ini duperlukan untuk mengisi dan melengkapi sebuah cerita. Mereka serin disebut figuran, karena yang dibutuhkan figuran saja. Mereka sering tampil tanpa dialog. Kalaupun ada, dialognya hanya bersifat informatif. Biasanya mereka digunakan dalam adegan-adegan kolosal dan keramaian. Atau jika tidak kolosal, biasanya mereka memegang profesi di dalam pelayanan umum, misalnya sopir taksi, pembantu, atau petugas di pom bensin.

e. Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan penulis cerita kepada penonton atau penikmat drama. Jika drama ditujukan kepada pelajar, maka seiring dengan temanya, drama harus memberikan amanat yang bersifat edukatif. Selain itu, cerita dalam drama harus dapat menambah pengetahuan yang positif bagi siswa.

Wednesday, October 12, 2011

MACAM-MACAM MAJAS

menurut Prof. Dr. H. G. Tarigan majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Unsur kebahasaan antara lain: pilihan kata,frasa, klausa, dan kalimat.
Majas dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu:
a. Majas perulangan        c.     Majas pertentangan
b. Majas perbandingan    d.     Majas pertautan
berikut adalah contoh majas yang sering digunakan secara umum:
a. Majas Perulangan
(1)      Aliterasi
Aliterasi adalah majas yang berwujud perulangan konsonan pada suatu kata atau beberapa kata, biasanya terjadi pada puisi.
Contoh:  Kau keraskan kalbunya
Bagai batu membesi benar Timbul telangkai bertongkat urat Ditunjang pengacara petah pasih
(2)    Asonansi
Asonansi adalah majas repetisi yang berwujud perulangan vokal, pada suatu kata atau beberapa kata. Biasanya dipergunakan dalam puisi untuk mendapatkan efek penekanan.
Contoh:
Segala ada menekan dada
Mati api di dalam hati
Harum sekuntum bunga rahasia
Dengan hitam kelam
(3)    Anafora
Anafora adalah majas repetisi yang merupakan perulangan kata pertama pada setiap baris
atau kalimat.
Contoh:
Kucari kau dalam toko-toko.
Kucari kau karena cemas karena sayang.
Kucari kau karena sayang karena bimbang.
Kucari kau karena kaya mesti diganyang.
(4)    Epifora
Epifora adalah majas repetisi yang berupa perulangan kata pada akhir baris atau kalimat berurutan.
Contoh:
Ibumu sedang memasak di dapur ketika kau tidur.
Aku mencercah daging ketika kau tidur.
(5)    Simploke
Simploke adalah majas repetisi yang berupa perulangan awal dan akhir beberapa baris
(kalimat secara berturut-turut).
Contoh:
Ada selusin gelas ditumpuk ke atas. Tak pecah.
Ada selusin piring ditumpuk ke atas. Tak pecah.
Ada selusin barang lain ditumpuk ke atas. Tak pecah.
b. Majas Perbandingan
(1)    Perumpamaan
Perumpamaan adalah padanan kata atau simile yang berarti seperti. Secara eksplisit jenis majas ini ditandai oleh pemakaian kata: seperti, sebagai, ibarat, umpama, bak, laksana,serupa.
Contoh: Seperti air dengan minyak.
(2)    Metafora
Metafora adalah majas yang membandingkan dua hal secara implisit.
Contoh: Aku adalah angin yang kembara.
(3)    Personifikasi
Personifikasi adalah majas yang melekatkan sifat-sifat insani pada barang atau benda yang tidak bernyawa ataupun pada ide yang abstrak.
Contoh: Bunga ros menjaga dirinya dengan duri.
(4)    Alegori
Alegori adalah majas yang menggunakan lambang-lambang yang termasuk dalam alegon,
antara lain:
Fabel, contoh   : Kancil dan Buaya
Parabel, contoh : Cerita Adam dan Hawa
(5)    Antitesis
Antitesis adalah majas yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan.
Contoh: Dia gembira atas kegagalanku dalam ujian.
(6)    Pleonasme
Pleonasme adalah penggunaan kata yang mubazir yang sebenarnya tidak perlu.
Contoh: Capek mulut saya berbicara.
(7)    Tautologi
Tautologi adalah majas yang menggunakan kata atau frasa yang searti dengan kata yang telah disebutkan terdahulu.
Contoh: Apa maksud dan tujuannya datang ke mari?
c. Majas Pertentangan
(1)    Hiperbola
Hiperbola adalah majas yang mengandung pernyataan yang berlebih baik jumlah, ukuran, maupun sifatnya dengan tujuan untuk menekan, memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.
Contoh: Pemikiran-pemikirannya tersebar ke seluruh dunia.
(2)    Litotes
Litotes adalah majas yang berupa pernyataan yang bersifat mengecilkan kenyataan yang sebenarnya.
Contoh: Apa yang kami berikan ini memang tak berarti buatmu.
(3)    Ironi
Ironi adalah majas yang berupa pernyataan yang isinya bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya.
Contoh: Bagus benar rapormu Mir, banyak merahnya.
(4)    Satire
Satire adalah majas sejenis argumen atau puisi atau karangan yang berisi kritik sosial baik secara terang-terangan maupun terselubung.
Contoh:
Jemu aku dengan bicaramu
Kemakmuran, keadilan, kebahagiaan
Sudah sepuluh tahun engkau bicara
Aku masih tak punya celana
Budak kurus pengangkut sampah
(5)    Paradoks
Paradoks adalah majas yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada.
Contoh: Teman akrab adakalanya merupakan musuh sejati.
(6)    Klimaks
Klimaks adalah majas yang berupa susunan ungkapan yang makin lama makin mengandung penekanan atau makin meningkat kepentingannya dari gagasan atau ungkapan sebelumnya.
Contoh: Hidup kita diharapkan berguna bagi saudara, orang tua, nusa bangsa, dan negara.
(7)    Antiklimaks
Antiklimaks adalah suatu pemyataan yang berisi gagasan-gagasan yang disusun dengan urutan dari yang penting hingga yang kurang penting.
Contoh: Jangankan sepuluh ribu, seribu, atau seratus, satu rupiah pun aku tak punya.
(8)    Sinisme
Sinisme adalah majas yang merupakan sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan atau ketulusan hati.
Contoh: Anda benar-benar hebat sehingga pasir di guran Sahara pun dapat Anda hitung.
(9)    Sarkasme
Sarkasme adalah majas yang mengandung sindiran atau olok-olok yang pedas atau kasar.
Contoh: Kau memang benar-benar bajingan.
d. Majas Pertautan
(1)    Metonimia
Metonimia adalah majas yang menggunakan nama barang, orang, hal, atau ciri sebagai pengganti barang itu sendiri.
Contoh: Parker jauh lebih mahal daripada pilot.
(2)    Sinekdoke
Sinekdoke adalah majas yang menyebutkan nama sebagian sebagai nama pengganti barang sendiri.
Contoh Sinekdoke pars pro toto: Lima ekor kambing telah dipotong pada acara itu.
Contoh Sinekdoke totem pro parte: Dalam pertandingan itu Indonesia menang satu lawan Malaysia.
(3)    Alusio
Alusio adalah majas yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa atau tokoh yang telah umum dikenal/diketahui orang.
Contoh: Apakah peristiwa Madiun akan terjadi lagi di sini?
(4)    Eufimisme
Eufimisme adalah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasa lebih kasar yang dianggap merugikan atau yang tidak menyenangkan.
Contoh: Tunasusila sebagai pengganti pelacur.
(5)    Elipsis
Elipsis adalah majas yang di dalamnya terdapat penanggalan atau penghilangan salah satu atau beberapa unsur penting dari suatu konstruksi sintaksis.
Contoh:
Mereka ke Jakarta minggu lalu (perhitungan prediksi).
Pulangnya membawa oleh-oleh banyak sekali (penghilangan subjek).
Saya sekarang sudah mengerti (penghilangan objek).
Saya akan berangkat (penghilangan unsur keterangan).
Mari makan! (penghilangan subjek dan objek).
(6)    Asindeton
Asindenton adalah majas yang berupa sebuah kalimat atau suatu konstruksi yang mengandung kata-kata yang sejajar, tetapi tidak dihubungkan dengan kata-kata penghubung.
Contoh: Ayah, ibu, anak merupakan inti dari sebuah keluarga.
(7)  Polisindenton
Polisindenton adalah majas yang berupa sebuah kalimat atau sebuah konstruksi yang mengandung kata-kata yang sejajar dan dihubungkan dengan kata-kata penghubung
Contoh: Pembangunan memerlukan sarana dan prasarana juga dana serta kemampuan pelaksana

Photo Kami

Blog Ini Dibiayai Oleh :

Education
Academics

Toko Murah Online

Tolong di KLIK Iklannya SATU KALI

Join Di Facebook